Sebab-Sebab Menguatkan Iman
Majelis ilmu dan pergaulan yang baik merupakan sebab penting bertambahnya iman. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat melemahkan iman dan menjauhkan dari ketaatan.
Sebab-Sebab Menguatkan Iman
Salah satu cara untuk memperkuat iman adalah dengan menghadiri majelis-majelis ilmu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:
«نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ»
“Hanzhalah telah munafik, wahai Rasulullah.”
Rasulullah ﷺ bertanya:
“Mengapa demikian, wahai Hanzhalah?”
Hanzhalah menjawab:
“Ketika aku berada di majelismu, wahai Rasulullah, seakan-akan aku melihat surga dan neraka dengan mata kepala sendiri. Namun ketika aku pulang ke rumah, bercengkerama dengan istri dan anak-anakku, hilanglah keadaan itu. Karena itu aku merasa telah munafik, wahai Rasulullah.”
Hadits ini menunjukkan bahwa menghadiri majelis ilmu dan mempelajari agama merupakan sebab yang besar untuk menambah dan menguatkan iman. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga hubungannya dengan ilmu syar'i dan para penuntut ilmu.
Selain itu, menjaga pergaulan dan lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kuat atau lemahnya iman seseorang. Berteman dengan orang-orang saleh akan membantu seseorang untuk tetap istiqamah, mengingat Allah, dan bersemangat dalam ketaatan. Sebaliknya, berteman dengan orang-orang yang melalaikan dari dzikrullah, gemar membicarakan kemaksiatan, atau mengajak kepada keburukan dapat menyebabkan lemahnya iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ»
“Seseorang berada di atas agama (kebiasaan) teman dekatnya.”
Para ulama juga mengatakan:
«مَنْ جَالَسَ جَانَسَ»
“Barang siapa banyak bergaul dengan suatu kaum, maka ia akan menyerupai mereka.”
Karena itu, memilih lingkungan dan teman yang baik merupakan salah satu sarana penting untuk menjaga dan meningkatkan keimanan. Semakin dekat seseorang dengan majelis ilmu dan orang-orang saleh, semakin besar peluangnya untuk tetap teguh di atas ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Diambil dari kajian Hari Makan-Makan & Minum - Al-Ustadz Muhammad Mundzir