Bidayatus Sabil - [Pengantar] Memahami Hakikat As-Siratal Mustaqim
Bagaimana seseorang memulai langkah di jalan Allah, yaitu jalan As-Siratal Mustaqim (jalan yang lurus). Materi ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman agar kita bisa lebih istiqamah dalam menempuh pembelajaran
Pengantar dan Mukadimah
Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Tujuan Penyusunan Risalah
Risalah ini merupakan persembahan dari seorang hamba yang ditujukan kepada Rabb-nya, sebagai bentuk usaha dan kesungguhan dalam meraih hal yang bermanfaat, sesuai dengan kadar ilmu yang Allah karuniakan.
Pada dasarnya, manusia diciptakan dalam keadaan bodoh dan lemah. Al-Qur'an menyebutkan bahwa manusia itu sangat zalim dan ingkar, serta diciptakan dalam keadaan lemah ketika terlepas dari ilmu dan pertolongan Allah. Allah mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, lalu Dia memberikan perangkat ilmu kepada mereka. Oleh karena itu, hal terbesar yang bisa dijadikan pegangan adalah harapan kepada Allah agar Dia senantiasa mengatur dan menggerakkan hamba-Nya untuk memberikan manfaat bagi umat Islam. Penulis risalah menyadari bahwa dirinya adalah hamba yang sepenuhnya dikuasai oleh Allah, dan ia merasa rida diatur oleh-Nya sebagai sebaik-baik Pemilik dan Pengatur.
Risalah ini disusun untuk menjelaskan tanda-tanda, patokan, dan batasan dari jalan syariat, yaitu jalan yang Allah perintahkan untuk ditempuh. Dengan mengetahui sifat dan tanda-tanda jalan tersebut, pemahaman ini diharapkan menjadi sebab keselamatan hamba serta menjauhkannya dari jalan-jalan yang menyimpang.
Hakikat Jalan Allah (As-Siratal Mustaqim)
Allah memiliki satu jalan yang diperintahkan untuk ditempuh oleh setiap hamba. Allah berfirman: "Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa."
Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa memohon petunjuk ke jalan ini setiap hari, sebagaimana diucapkan dalam doa: "Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
Permisalan Jalan yang Lurus dalam Hadis
Mengenai sifat jalan tersebut, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjelaskannya dalam sebuah riwayat dari An-Nawwas bin Sam'an al-Anshari. Rasulullah bersabda bahwa Allah membuat perumpamaan jalan yang lurus. Di kedua sisi jalan tersebut terdapat dua tembok. Pada kedua tembok itu terdapat pintu-pintu yang terbuka, namun ditutupi oleh tirai-tirai yang tipis.
Di pintu gerbang jalan tersebut, terdapat seorang penyeru yang berseru, "Wahai manusia, masuklah kalian semua ke jalan ini dan janganlah berpecah belah." Terdapat pula penyeru lain dari dalam jalan yang senantiasa memperingatkan ketika seseorang hendak menyingkap salah satu tirai pintu, "Celaka engkau, jangan dibuka! Jika engkau membukanya, engkau akan terperosok ke dalamnya."
Jalan yang lurus tersebut adalah Islam. Dua tembok di sisinya adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka adalah perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. Penyeru di ujung jalan adalah Kitabullah (Al-Qur'an), sedangkan penyeru di bagian dalam jalan adalah fitrah atau peringatan Allah yang berada di dalam hati setiap muslim.
Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membuat satu garis lurus dan bersabda, "Ini adalah jalan Allah." Kemudian beliau membuat garis-garis lain di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda, "Ini adalah jalan-jalan (yang menyimpang). Pada setiap jalan tersebut terdapat setan yang menyeru kepadanya." Setelah itu, beliau membacakan ayat tentang larangan mengikuti jalan-jalan yang mencerai-beraikan.
Hikmah Pembelajaran
Permisalan di atas secara jelas menggambarkan adanya jalan yang lurus dan jalan-jalan menyimpang yang bercabang-cabang di sekitarnya. Jalan-jalan yang menyimpang tersebut sering kali tertutup oleh tirai yang diperindah oleh setan. Jika seseorang terjatuh pada jalan-jalan tersebut dan menjauh dari jalan utama, maka ia akan tersesat.
Pembahasan mengenai jebakan dan perangkap setan ini sangat penting agar setiap individu memiliki basirah (ilmu dan pandangan yang tajam). Dengan mengetahui bentuk-bentuk perangkap tersebut, seseorang dapat lebih waspada, menjaga dirinya agar tidak terjerumus, dan senantiasa istikamah. Pemahaman ini juga akan memampukannya untuk menjaga keluarga, anak-anak, serta orang-orang di sekitarnya dari kesesatan dan fitnah yang tampak.
[Faidah Pembelajaran KSI]